Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang.
Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di bangku 14 D. Persisnya tak lama setelah mengusir dengan halus orang yang menduduki bangkuku itu dan memutar sandarannya ke arah depan. Baca Lanjutannya…


