Oleh: sigitwidodo | 30 Juni 2011

Gerbong Nomor Tiga

Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang.

Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di bangku 14 D. Persisnya tak lama setelah mengusir dengan halus orang yang menduduki bangkuku itu dan memutar sandarannya ke arah depan.

Bukan. Aku tidak berniat menulis cerita misteri tentang gerbong paling belakang di kereta ini. Tak ada gunanya menulis cerita misteri di negeri yang bioskopnya didominasi dongeng hantu-hantu tidak bermutu. Apalagi berita saat ini juga dijejali cerita misteri politik silih berganti. Pasti akan membosankan. Lebih membosankan dari kehidupan di negara pulau yang gemar menampung koruptor asal Indonesia itu.

Aku memang tidak tahu mau menulis apa. Mungkin sekedar membunuh rasa bosan. Buku kumpulan cerpen yang ditulis seorang penulis perempuan bersama empat belas laki-laki ini sudah habis kubaca. Ponsel Blackberry-ku kehabisan tenaga listrik tak lama setelah kereta berjalan. Tak mampu lagi menjejali kalimat-kalimat singkat ke media sosial kegemaranku. Biarlah para politisi tenang malam ini, tanpa komentar-komentarku.

Huh, nyanyi pekicau sunyi. Seperti ada politisi yang membaca kicauanku saja. Kalaupun ada, memangnya mereka peduli?

Dulu pernah sekali, seorang tokoh yang mengaku pejuang demokrasi, langsung menghapusku dari daftar pertemannya di Facebook karena aku memberi komentar yang berseberangan dengan statusnya. Sempat terlintas, kalau tak bisa berbeda pendapat, apakah bung kribo itu tidak sebaiknya menulis ‘Mein Kampf’ versi lokal ketimbang mengaku pejuang demokrasi?

Entahlah. Menghargai perbedaan pendapat tampaknya sedang sulit sekali dilakukan di Republik Bhinneka Tunggal Ika ini.

Jadi, apa yang mau aku tulis malam ini? Bercerita tentang gerbong bisnis yang sudah 10 tahun lebih tak pernah aku singgahi? Inipun kembali aku singgahi karena hanya ada karcis tersisa di kelas ini. Hmm.. beberapa kawan akan menggodaku sebagai borjuis karena pernyataan ini. Biarlah..

Apakah aku harus bercerita tentang lusinan kaum pekerja yang harus kembali ke ibukota dan sekarang terlelap di bangku-bangku, kolong-kolong bangku dan selasar gerbong?

Tadi ada kicauan yang nyaris terkirim sebelum ponselku kehabisan daya hidupnya. “Masyarakat seperti kereta, ada kelas eksekutif, bisnis, ekonomi. Ada juga pekerja yang siang-malam membangun rel ganda tanpa menikmati naik kereta.” Belum sempat kuringkas jadi 140 karakter. Ponsel keburu mati.

Tapi gagasan itu tak bisa aku jabarkan lebih panjang lagi dalam tulisan ini. Huh! Penyakit laten pengguna Twitter yang lama tak menulis panjang.

Aneh memang. Kereta bisnis setidaknya selama enam tahun selalu setia menemaniku dalam perjalanan Purwokerto-Jakarta di masa-masa berstatus mahasiswa dan masa awal berstatus pekerja. Kenapa tidak ada kenangan yang bisa kutulis di sini?

Satu-satunya yang sekarang terlintas hanya interaksi penumpangnya yang jauh lebih akrab ketimbang penumpang kelas eksekutif. Ini bukan kelas dengan penumpang-penumpang yang dinginnya melebihi penyejuk udara di gerbong-gerbong mahal itu. Penumpang kelas bisnis jauh lebih hangat, sehangat gerbong saat kereta berhenti lama di stasiun.

Jadi, tak lama setelah aku duduk, seorang ibu tua ditemani anak dan menantunya mengusir dengan halus orang yang duduk di bangku 14 C sampingku. Soal usir-mengusir dengan halus di kereta kelas bisnis ini tampaknya sudah jadi tradisi puluhan tahun. Aku sendiri pertama kali melihat saat ayahku melakukannya, lebih dari seperempat abad silam.

Setelah orang di sampingku pergi, si ibu meminta izin dengan sopan untuk duduk di sampingku. “Monggo, bu,” kataku sambil tersenyum ramah membalas kesopanannya.

Si anak kemudian meminta pada seorang pria setengah baya yang duduk di bangku 14 AB – satu deret namun terpisah selasar dengan bangku 14 CD – untuk bertukar tempat duduk agar dia bisa duduk bersama dengan ibunya.

Entah mengapa aku tiba-tiba berkata,”Saya saja yang pindah ke situ, biar ibu di sini” sambil memindahkan besek oleh-oleh dan tas ranselku ke bangku samping. Tak tega melihat orang tua itu pindah-pindah bangku. Toh aku cuma bepergian sendiri.

Jadilah aku berpindah ke bangku 14A. Beruntung, masih sama-sama bangku samping jendela. Dari kecil aku tak suka duduk di bangku samping selasar.

Tak lama kemudian menantu si ibu tua datang. “Saya duduk di bawah saja. Tempat duduk saya dipakai orang tua, nggak enak ngusirnya.” Pria yang tampaknya seumuran denganku itu langsung menggelar koran di selasar.

Melihat itu, bapak yang duduk dua bangku di belakangku setengah berteriak,”Enak nyempil di sini aja, mas. Daripada tidur di situ!” Si pria tadi pun menyimak ruang antar-bangku dua baris di belakang kami.

Ruang semacam ini terbentuk apabila tidak semua kursi dihadapkan ke arah depan. Jika ada kursi yang dihadapkan ke arah belakang, maka dua kursi yang saling bertolak belakang akan menciptakan ruang kecil yang pas untuk satu orang dewasa tidur – tidak termasuk kaki yang harus menjulur ke selasar.

Saat mahasiswa dulu, aku selalu merasa beruntung kalau bisa mendapat “tempat tidur” seperti itu di kereta. Satu-satunya gangguan hanya beberapa serangga yang saat itu banyak di gerbong kereta. Kurang nyaman kalau mereka hilir-mudik melewati kepala kita.

Pilihan terbaik berikutnya adalah tidur di bordes, ruang kosong dekat toilet di ujung-ujung gerbong. Ini lebih baik ketimbang tidur di selasar. Meski aromanya tidak seharum kamar hotel, tapi tidak akan  terganggu orang yang lalu-lalang sepanjang gerbong.

Saat pria yang menemani istri dan mertuanya tadi bergerak untuk berpindah, bapak separuh baya di sampingku langsung menawarkan kursinya. “Duduk sini saja, mas. Saya mau tidur, kok. Biar saya yang di situ.”

Akhirnya mereka pun berpindah posisi. Sebelum bertukar tempat, si pria muda menawarkan koran untuk alas tidur. Tawaran yang ditampik sopan karena pria paruh baya sudah membawa korannya sendiri. Kebebasan pers memang layak dijunjung tinggi di negeri yang korannya memiliki berbagai fungsi ini.

Setelah reshuffle penumpang dilakukan, keramahan ala gerbong bisnis pun diteruskan. Seorang yang tidak pernah kenal denganku bercerita laksana bertemu sahabat yang lama terpisah. Semua dilakukan sonder perkenalan atau menyebutkan nama masing-masing.

Selain soal gerbong yang kuceritakan di awal tulisan, aku ketahui dia baru berangkat dari Jakarta pagi tadi dan malam ini sudah kembali ke Jakarta. Tidak bisa menginap, besok sudah harus kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sama saja denganku, sebetulnya. Hanya saja aku punya waktu 24 jam lebih lama.

Jeda selama hampir delapan jam digunakan untuk menjemput mertuanya di Ajibarang untuk pergi ke Jakarta. Menurut peta Jawa Tengah, Ajibarang adalah kota kecamatan di sebelah barat Purwokerto. Oh ya, si pria ini berasal dari Yogyakarta – wilayah yang masih diperdebatkan status keistimewaannya itu.

Dari ceritanya pula aku tahu, selama ini mertuanya tinggal bersama satu anaknya yang tersisa di Ajibarang. Tujuh anaknya yang lain tinggal di seputaran ibukota. Dua anaknya – termasuk istri sang pria – tinggal di Pluit. Sisanya tersebar di Karawaci, Bintaro, Depok, dan… Ah, aku lupa nama tempat yang disebutkannya tadi. Apa perlu aku bangunkan dia untuk ditanyai?

Sang anak yang masih tinggal di Ajibarang berprofesi sebagai guru dan tidak bisa menemaninya sepanjang waktu. Masih dari ceritanya, sang mertua empat pekan silam sempat sakit parah. “Mulutnya udah mencong. Kan kaget saya mendengarnya,” ujarnya mengalir seperti politisi di acara perbincangan stasiun televisi.

Karena itu, setelah berembuk dengan ipar-iparnya, mereka sepakat untuk menjemput sang mertua untuk tinggal di ibukota. “Jadi nanti ganti-gantian tinggal di rumah anak-anaknya?” tanyaku berusaha antusias. Jawabannya dikalahkan desau angin yang masuk melalui jendela. Tapi aku tahu, dia mengiyakan.

Menakjubkan! Perbincangan yang hanya memakan waktu 45 menit bisa memberikan informasi selengkap itu. Tak lama, priyantun Yogyakarta ini pun terdiam. Mungkin lelah setelah menyampaikan begitu banyak informasi.

Akupun mengambil kesempatan untuk menghabiskan buku kumpulan cerpen yang aku beli akhir pekan lalu. Sesudah selesai membaca, aku rasanya juga tak berminat meneruskan perbincangan tadi.

Jadi kutulis saja catatan ini di ponselku yang lain. Bahkan aku terlalu malas untuk membuka komputer jinjing yang kubawa di dalam ransel.

Entah di mana ini sekarang, tapi Stasiun Cikampek tampaknya sudah terlewati sekian belas menit silam. Mestinya tak lama lagi kereta akan tiba di Jakarta. Ah, membuatku teringat lagu-lagu epos pejuang 1945 yang ditunggu datang ke ibukota negara merdeka.

Saat ini gerbongku juga dipenuhi pejuang-pejuang kaum pekerja yang esok harus kembali bertempur setelah liburan singkatnya. Tapi tak pernah ada puja-puji. Mereka tak pernah dianggap pahlawan, meski tanpa mereka republik ini tak akan berjalan.

Sang menantu teladan sudah terlelap pada kolong bangku di bawahku. Sepertinya aku tidak akan sempat terlelap. Bekasi tak jauh lagi di depan. Lagipula tidur tertekuk di bangku yang sekarang cuma kupakai sendiri akan membuatku punggungku tak nyaman besok.

Ini bukan tahun 1990-an saat aku bisa terlelap di bordes kereta bisnis dan bangun dengan tubuh segar keesokan paginya. Kereta ini pun sudah berubah. Jauh lebih bersih dan tidak lagi dikuasai serangga-serangga yang suka hilir-mudik itu.

Ah, Jakarta. Sudah sampai Jatinegara rupanya.

KA Purwojaya, 29-30 Juni 2011


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.