<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://widodo.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://widodo.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Oct 2011 04:14:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='widodo.net' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://widodo.net</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://widodo.net/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://widodo.net/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gerbong Nomor Tiga</title>
		<link>http://widodo.net/2011/06/30/gerbong-nomor-tiga/</link>
		<comments>http://widodo.net/2011/06/30/gerbong-nomor-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 06:31:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humanisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widodo.net/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang. Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=224&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2011/06/img00026-20110629-2013.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-225" title="IMG00026-20110629-2013" src="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2011/06/img00026-20110629-2013.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang.</p>
<p>Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di bangku 14 D. Persisnya tak lama setelah mengusir dengan halus orang yang menduduki bangkuku itu dan memutar sandarannya ke arah depan.<span id="more-224"></span></p>
<p>Bukan. Aku tidak berniat menulis cerita misteri tentang gerbong paling belakang di kereta ini. Tak ada gunanya menulis cerita misteri di negeri yang bioskopnya didominasi dongeng hantu-hantu tidak bermutu. Apalagi berita saat ini juga dijejali cerita misteri politik silih berganti. Pasti akan membosankan. Lebih membosankan dari kehidupan di negara pulau yang gemar menampung koruptor asal Indonesia itu.</p>
<p>Aku memang tidak tahu mau menulis apa. Mungkin sekedar membunuh rasa bosan. Buku kumpulan cerpen yang ditulis seorang penulis perempuan bersama empat belas laki-laki ini sudah habis kubaca. Ponsel Blackberry-ku kehabisan tenaga listrik tak lama setelah kereta berjalan. Tak mampu lagi menjejali kalimat-kalimat singkat ke media sosial kegemaranku. Biarlah para politisi tenang malam ini, tanpa komentar-komentarku.</p>
<p>Huh, nyanyi pekicau sunyi. Seperti ada politisi yang membaca kicauanku saja. Kalaupun ada, memangnya mereka peduli?</p>
<p>Dulu pernah sekali, seorang tokoh yang mengaku pejuang demokrasi, langsung menghapusku dari daftar pertemannya di Facebook karena aku memberi komentar yang berseberangan dengan statusnya. Sempat terlintas, kalau tak bisa berbeda pendapat, apakah bung kribo itu tidak sebaiknya menulis &#8216;Mein Kampf&#8217; versi lokal ketimbang mengaku pejuang demokrasi?</p>
<p>Entahlah. Menghargai perbedaan pendapat tampaknya sedang sulit sekali dilakukan di Republik Bhinneka Tunggal Ika ini.</p>
<p>Jadi, apa yang mau aku tulis malam ini? Bercerita tentang gerbong bisnis yang sudah 10 tahun lebih tak pernah aku singgahi? Inipun kembali aku singgahi karena hanya ada karcis tersisa di kelas ini. Hmm.. beberapa kawan akan menggodaku sebagai borjuis karena pernyataan ini. Biarlah..</p>
<p>Apakah aku harus bercerita tentang lusinan kaum pekerja yang harus kembali ke ibukota dan sekarang terlelap di bangku-bangku, kolong-kolong bangku dan selasar gerbong?</p>
<p>Tadi ada kicauan yang nyaris terkirim sebelum ponselku kehabisan daya hidupnya. &#8220;Masyarakat seperti kereta, ada kelas eksekutif, bisnis, ekonomi. Ada juga pekerja yang siang-malam membangun rel ganda tanpa menikmati naik kereta.&#8221; Belum sempat kuringkas jadi 140 karakter. Ponsel keburu mati.</p>
<p>Tapi gagasan itu tak bisa aku jabarkan lebih panjang lagi dalam tulisan ini. Huh! Penyakit laten pengguna Twitter yang lama tak menulis panjang.</p>
<p>Aneh memang. Kereta bisnis setidaknya selama enam tahun selalu setia menemaniku dalam perjalanan Purwokerto-Jakarta di masa-masa berstatus mahasiswa dan masa awal berstatus pekerja. Kenapa tidak ada kenangan yang bisa kutulis di sini?</p>
<p>Satu-satunya yang sekarang terlintas hanya interaksi penumpangnya yang jauh lebih akrab ketimbang penumpang kelas eksekutif. Ini bukan kelas dengan penumpang-penumpang yang dinginnya melebihi penyejuk udara di gerbong-gerbong mahal itu. Penumpang kelas bisnis jauh lebih hangat, sehangat gerbong saat kereta berhenti lama di stasiun.</p>
<p>Jadi, tak lama setelah aku duduk, seorang ibu tua ditemani anak dan menantunya mengusir dengan halus orang yang duduk di bangku 14 C sampingku. Soal usir-mengusir dengan halus di kereta kelas bisnis ini tampaknya sudah jadi tradisi puluhan tahun. Aku sendiri pertama kali melihat saat ayahku melakukannya, lebih dari seperempat abad silam.</p>
<p>Setelah orang di sampingku pergi, si ibu meminta izin dengan sopan untuk duduk di sampingku. &#8220;<em>Monggo</em>, bu,&#8221; kataku sambil tersenyum ramah membalas kesopanannya.</p>
<p>Si anak kemudian meminta pada seorang pria setengah baya yang duduk di bangku 14 AB &#8211; satu deret namun terpisah selasar dengan bangku 14 CD &#8211; untuk bertukar tempat duduk agar dia bisa duduk bersama dengan ibunya.</p>
<p>Entah mengapa aku tiba-tiba berkata,&#8221;Saya saja yang pindah ke situ, biar ibu di sini&#8221; sambil memindahkan <em>besek</em> oleh-oleh dan tas ranselku ke bangku samping. Tak tega melihat orang tua itu pindah-pindah bangku. Toh aku cuma bepergian sendiri.</p>
<p>Jadilah aku berpindah ke bangku 14A. Beruntung, masih sama-sama bangku samping jendela. Dari kecil aku tak suka duduk di bangku samping selasar.</p>
<p>Tak lama kemudian menantu si ibu tua datang. &#8220;Saya duduk di bawah saja. Tempat duduk saya dipakai orang tua, <em>nggak</em> enak ngusirnya.&#8221; Pria yang tampaknya seumuran denganku itu langsung menggelar koran di selasar.</p>
<p>Melihat itu, bapak yang duduk dua bangku di belakangku setengah berteriak,&#8221;Enak <em>nyempil</em> di sini aja, mas. Daripada tidur di situ!&#8221; Si pria tadi pun menyimak ruang antar-bangku dua baris di belakang kami.</p>
<p>Ruang semacam ini terbentuk apabila tidak semua kursi dihadapkan ke arah depan. Jika ada kursi yang dihadapkan ke arah belakang, maka dua kursi yang saling bertolak belakang akan menciptakan ruang kecil yang pas untuk satu orang dewasa tidur &#8211; tidak termasuk kaki yang harus menjulur ke selasar.</p>
<p>Saat mahasiswa dulu, aku selalu merasa beruntung kalau bisa mendapat &#8220;tempat tidur&#8221; seperti itu di kereta. Satu-satunya gangguan hanya beberapa serangga yang saat itu banyak di gerbong kereta. Kurang nyaman kalau mereka hilir-mudik melewati kepala kita.</p>
<p>Pilihan terbaik berikutnya adalah tidur di <em>bordes</em>, ruang kosong dekat toilet di ujung-ujung gerbong. Ini lebih baik ketimbang tidur di selasar. Meski aromanya tidak seharum kamar hotel, tapi tidak akan  terganggu orang yang lalu-lalang sepanjang gerbong.</p>
<p>Saat pria yang menemani istri dan mertuanya tadi bergerak untuk berpindah, bapak separuh baya di sampingku langsung menawarkan kursinya. &#8220;Duduk sini saja, mas. Saya mau tidur, kok. Biar saya yang di situ.&#8221;</p>
<p>Akhirnya mereka pun berpindah posisi. Sebelum bertukar tempat, si pria muda menawarkan koran untuk alas tidur. Tawaran yang ditampik sopan karena pria paruh baya sudah membawa korannya sendiri. Kebebasan pers memang layak dijunjung tinggi di negeri yang korannya memiliki berbagai fungsi ini.</p>
<p>Setelah <em>reshuffle</em> penumpang dilakukan, keramahan ala gerbong bisnis pun diteruskan. Seorang yang tidak pernah kenal denganku bercerita laksana bertemu sahabat yang lama terpisah. Semua dilakukan sonder perkenalan atau menyebutkan nama masing-masing.</p>
<p>Selain soal gerbong yang kuceritakan di awal tulisan, aku ketahui dia baru berangkat dari Jakarta pagi tadi dan malam ini sudah kembali ke Jakarta. Tidak bisa menginap, besok sudah harus kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sama saja denganku, sebetulnya. Hanya saja aku punya waktu 24 jam lebih lama.</p>
<p>Jeda selama hampir delapan jam digunakan untuk menjemput mertuanya di Ajibarang untuk pergi ke Jakarta. Menurut peta Jawa Tengah, Ajibarang adalah kota kecamatan di sebelah barat Purwokerto. Oh ya, si pria ini berasal dari Yogyakarta &#8211; wilayah yang masih diperdebatkan status keistimewaannya itu.</p>
<p>Dari ceritanya pula aku tahu, selama ini mertuanya tinggal bersama satu anaknya yang tersisa di Ajibarang. Tujuh anaknya yang lain tinggal di seputaran ibukota. Dua anaknya &#8211; termasuk istri sang pria &#8211; tinggal di Pluit. Sisanya tersebar di Karawaci, Bintaro, Depok, dan&#8230; Ah, aku lupa nama tempat yang disebutkannya tadi. Apa perlu aku bangunkan dia untuk ditanyai?</p>
<p>Sang anak yang masih tinggal di Ajibarang berprofesi sebagai guru dan tidak bisa menemaninya sepanjang waktu. Masih dari ceritanya, sang mertua empat pekan silam sempat sakit parah. &#8220;Mulutnya udah <em>mencong</em>. Kan kaget saya mendengarnya,&#8221; ujarnya mengalir seperti politisi di acara perbincangan stasiun televisi.</p>
<p>Karena itu, setelah berembuk dengan ipar-iparnya, mereka sepakat untuk menjemput sang mertua untuk tinggal di ibukota. &#8220;Jadi nanti ganti-gantian tinggal di rumah anak-anaknya?&#8221; tanyaku berusaha antusias. Jawabannya dikalahkan desau angin yang masuk melalui jendela. Tapi aku tahu, dia mengiyakan.</p>
<p>Menakjubkan! Perbincangan yang hanya memakan waktu 45 menit bisa memberikan informasi selengkap itu. Tak lama, <em>priyantun</em> Yogyakarta ini pun terdiam. Mungkin lelah setelah menyampaikan begitu banyak informasi.</p>
<p>Akupun mengambil kesempatan untuk menghabiskan buku kumpulan cerpen yang aku beli akhir pekan lalu. Sesudah selesai membaca, aku rasanya juga tak berminat meneruskan perbincangan tadi.</p>
<p>Jadi kutulis saja catatan ini di ponselku yang lain. Bahkan aku terlalu malas untuk membuka komputer jinjing yang kubawa di dalam ransel.</p>
<p>Entah di mana ini sekarang, tapi Stasiun Cikampek tampaknya sudah terlewati sekian belas menit silam. Mestinya tak lama lagi kereta akan tiba di Jakarta. Ah, membuatku teringat lagu-lagu epos pejuang 1945 yang ditunggu datang ke ibukota negara merdeka.</p>
<p>Saat ini gerbongku juga dipenuhi pejuang-pejuang kaum pekerja yang esok harus kembali bertempur setelah liburan singkatnya. Tapi tak pernah ada puja-puji. Mereka tak pernah dianggap pahlawan, meski tanpa mereka republik ini tak akan berjalan.</p>
<p>Sang menantu teladan sudah terlelap pada kolong bangku di bawahku. Sepertinya aku tidak akan sempat terlelap. Bekasi tak jauh lagi di depan. Lagipula tidur tertekuk di bangku yang sekarang cuma kupakai sendiri akan membuatku punggungku tak nyaman besok.</p>
<p>Ini bukan tahun 1990-an saat aku bisa terlelap di bordes kereta bisnis dan bangun dengan tubuh segar keesokan paginya. Kereta ini pun sudah berubah. Jauh lebih bersih dan tidak lagi dikuasai serangga-serangga yang suka hilir-mudik itu.</p>
<p>Ah, Jakarta. Sudah sampai Jatinegara rupanya.</p>
<p><strong>KA Purwojaya, 29-30 Juni 2011</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=224&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2011/06/30/gerbong-nomor-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2011/06/img00026-20110629-2013.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG00026-20110629-2013</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Menolak Timur Pradopo?</title>
		<link>http://widodo.net/2010/10/20/mengapa-saya-menolak-timur-pradopo/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/10/20/mengapa-saya-menolak-timur-pradopo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 13:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widodo.net/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Pada 19 Oktober 2010, DPR akhirnya menyetujui pencalonan Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Beritanya terpinggirkan, atau memang sengaja dipinggirkan, oleh hiruk-pikuk pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat pekan silam, usai Timur menjalani fit and proper test di DPR. Namun baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=190&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/10/timur.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-191" title="Timur Pradopo" src="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/10/timur.jpg?w=280&#038;h=300" alt="" width="280" height="300" /></a>Pada 19 Oktober 2010, DPR akhirnya menyetujui pencalonan Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Beritanya terpinggirkan, atau memang sengaja dipinggirkan, oleh hiruk-pikuk pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono.</p>
<p>Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat pekan silam, usai Timur menjalani <em>fit and proper test</em> di DPR. Namun baru sekarang saya bisa menulisnya. <em>Better late than never</em>, kata orang Inggris. Jadi, sementara orang lain sudah pindah ke isu satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, perkenankan saya masih berkutat pada soal usang ini.<span id="more-190"></span></p>
<p>Timur Pradopo. Nama ini akan selalu terekam di benak saya dan kawan-kawan alumni Universitas Trisakti lainnya yang terlibat dalam tragedi 12 Mei 1998. Timur yang masih berpangkat Letnan Kolonel (Pol), saat itu menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat. Di dalam wilayahnya terletak Kampus A Universitas Trisakti, lokasi penembakan yang menewaskan empat orang mahasiswa teman kami.</p>
<p>Saya ingin mengajak Anda menyusuri kenangan kami di hari itu. Situasi Indonesia dalam keadaaan sangat tegang. Krisis menghantam ekonomi Orde Baru yang rapuh. Rupiah menjadi tak berharga, inflasi gila-gilaan, dan bisnis kolaps di mana-mana. Setelah berbulan-bulan diam, sampai-sampai senat mahasiswa kami dikirimi baju dalam wanita oleh kampus lain, mahasiswa Universitas Trisakti akhirnya memutuskan untuk menggelar mimbar bebas raksasa dan mencoba bergerak ke DPR.</p>
<p>Ya, mimbar bebas terbesar yang pernah digelar mahasiswa Jakarta saat itu. 6000 mahasiswa bergabung dalam aksi ini – mahasiswa kampus paling borjuis di Indonesia yang super duper apolitis sejak NKK/BKK 1978. CNN dalam laporannya melukiskan sebagai “<em>students of Indonesia’s best families now marching on the street</em>”.</p>
<p>Aksi ke DPR tidak pernah terjadi. Kami dihadang di depan kampus oleh ribuan aparat gabungan Polisi dan TNI-AD. Setelah lima jam disengat terik panas dan hujan deras berganti-gantian, kami memutuskan untuk mundur dan masuk kembali ke dalam kampus. Situasi berangsur tenang hingga menjelang petang.</p>
<p>Menjelang petang, kami mendengar akan ada <em>sweeping</em> pada sisa-sisa mahasiswa yang masih duduk-duduk di jalanan depan kampus. Kami pun bersiap-siap. Tiba-tiba terdengar tembakan dari arah kantor lama Walikota Jakarta Barat. Mahasiswa yang kebanyakan sudah menunggu kendaraan untuk pulang, berlarian masuk ke kampus. Sampai di dalam kampus, mahasiswa tetap disuguhi pelor panas. Kami berlarian di bawah desingan peluru, bersembunyi di sela-sela pepohonan. Beberapa mulai membalas melempar batu ke arah aparat. Hei, bagaimanapun ini Trisakti. “Lempar batu” sudah jadi olahraga rutin kami tiap semester, bung. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Gas air mata mulai dilemparkan ke dalam kampus. Desing peluru bercampur gas air mata menyesakkan kampus. Malam perlahan hadir, gelap mengurung kampus.</p>
<p>Dalam kegelapan dan pekatnya gas air mata, kami menemukan beberapa teman menjadi korban penembakan. Tak lama, darah korban memenuhi selasar kampus. Amis darah bercampur gas air mata menyesakkan paru-paru. Keheningan malam dikoyak jeritan marah mahasiswa dan tangisan panik mahasiswi. Tembakan terus diarahkan ke dalam kampus.</p>
<p>Kami mencoba mendobrak ruang kesehatan mahasiswa yang sudah dikunci. Tidak berhasil. Satu-satunya harapan kami adalah membawa rekan-rekan yang terluka ke Rumah Sakit Sumber Waras, sekian ratus meter di timur kampus kami. Namun itu juga bukan hal yang mudah, kampus masih dikepung oleh aparat gabungan.</p>
<p>Kami mencoba bernegosiasi dengan aparat agar diperbolehkan membawa teman-teman yang terluka ke luar kampus. Saat itulah kami berhadapan dengan Kapolres Timur Pradopo. Dia menolak permintaan kami. Seorang teman saya kembali sambil menangis dan memaki-maki Timur Pradopo setelah gagal membawa korban penembakan keluar kampus.</p>
<p>Gambaran itu yang selalu muncul di benak kami saat mendengar nama “Timur Pradopo”. Jadi saat tiba-tiba saja SBY mencalonkannya sebagai Kapolri, kami terhenyak.</p>
<p>Dalam banyak hal saya sebenarnya berbeda pendapat dengan teman-teman aktivis Trisakti lain yang tidak pernah jemu memperjuangkan pengusutan kasus 12 Mei 1998. Tidak sampai seminggu setelah peristiwa tersebut, saya sempat memasang poster di depan gedung jurusan saya, “Hentikan berkabung, teruskan perjuangan!” Setelah sempat terpasang beberapa jam, seorang teman dengan bijak meminta saya mencopotnya. “Git, jangan pasang poster seperti itu. Masalahnya beberapa teman meninggal, masak nggak boleh berkabung”. Saya pun mengalah dan mempersilakannya untuk mencopot poster itu.</p>
<p>Buat saya, perjuangan tidak harus berhenti karena satu kasus. Penuntasan kasus harus dibarengi perjuangan yang makin masif. Namun keduanya tidak pernah terjadi. Tragedi 12 Mei 1998 tidak pernah dituntaskan, dan semangat kampus kami makin merosot. Memang sempat kembali naik saat peristiwa Semanggi I, namun berikutnya anjlok sampai titik nadir.</p>
<p>Bagaimanapun saya tidak akan pernah rela seorang yang melarang kami menyelamatkan teman-teman yang tertembak saat 12 Mei 1998 dicalonkan menjadi orang tertinggi di jajaran kepolisian Republik Indonesia. Sebagai aktivis mahasiswa 1998, salah satu kebanggaan saya adalah pemisahan Polri dari ABRI. Polri saat ini adalah penegak hukum dan HAM, pilar masyarakat sipil yang kami dambakan. Tidak layak Polri dipimpin seseorang yang memiliki masa lalu sebagai pelanggar HAM.</p>
<p>Banyak teman alumni yang kemudian menghubungi saya dan mengajak melakukan aksi. Namun di hari <em>fit and proper test </em>14 Oktober silam, semua yang mengajak melakukan aksi memilih “melanjutkan kehidupan normalnya”. Kebanyakan tidak bisa datang karena kesibukan kantor, ada juga yang sedang terserang diare. Baiklah, hidup memang berjalan terus, dan rata-rata teman saya sudah memiliki kewajiban sebagai orangtua.</p>
<p>Saya memilih untuk tetap datang ke DPR pada hari itu. Penjagaan tidak seketat yang digambarkan media. Mobil saya dengan mudah keluar-masuk tanpa pemeriksaan sama sekali. Penjagaan hanya ketat di Ruang Nusantara II, dan itu bukan masalah. Sejak awal saya tidak pernah ingin melihat <em>fit and proper test</em> bohong-bohongan itu.</p>
<p>Beberapa teman alumni yang sekarang tergabung di Kontras memang masuk menjadi “fraksi balkon”. Tapi saya tidak tertarik. Buat apa? Bahkan partai oposisi seperti PDIP pun sudah dijinakkan. Tidak perlu buang energi dengan risiko menderita sakit mual melihat sandiwara anggota parlemen yang hanya bisa memikirkan perutnya sendiri, atau bagian bawah perutnya.</p>
<p>Saya memilih untuk berkeliling kompleks DPR. Sepi. Sesepi nurani penghuninya. Selain puluhan polisi yang bergerombol memesan kopi di kafe dekat Nusantara II, tidak ada tanda-tanda seorang yang terlibat pelanggaran HAM 12 tahun silam akan diuji kepatutannya menjadi Kapolri. Saya pun memilih pergi dari gedung dingin itu.</p>
<p>Saya sangat sadar, Timur sudah pasti naik menjadi Kapolri. Hasil Pemilu 2009 menghasilkan sebuah rezim yang sangat kuat secara politis. Sebodoh apapun keputusan presiden saat ini, pasti akan berjalan mulus tanpa rintangan berarti.</p>
<p>Bahkan tidak ada anggota parlemen yang mempertanyakan, seorang Inspektur Jenderal, yang baru dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal, langsung dicalonkan menjadi Kapolri, yang berarti akan segera naik menjadi Jenderal penuh berbintang empat. Lesatan karir yang sangat hebat. Apakah benar Timur sehebat itu sebagai seorang polisi? Tapi, sudahlah. Saya memahami betul kualitas pemerintah dan parlemen saat ini.</p>
<p>Namun tidak adanya gerakan perlawanan masif dari alumni Trisakti cukup membuat sedih. Seorang sahabat berkomentar, “<em>Wong</em> kampusmu nggak kompak”. Betul, kami memang tidak pernah kompak, bahkan saat 12 Mei 1998 sekalipun. Tapi kesunyian ini tetap merobek nurani. Ditambah kesunyian media massa <em>mainstream</em>, semakin lengkap rasanya.</p>
<p>Saya tentu tidak serta-merta menuduh Timur paling bertanggung jawab pada tragedi 12 Mei 1998. Apalah artinya melati dua di percaturan politik Indonesia saat itu? Cuma kroco tidak penting.</p>
<p>Namun sebagai mantan Kapolres Jakarta Barat, Timur tetap harus bertanggung jawab. Apalagi Timur menolak hadir dalam investigasi yang dilakukan Komnas HAM beberapa tahun sesudahnya. Elakan dengan mengatakan ketidakhadirannya disebabkan larangan institusi tidak pernah dikejar lagi oleh anggota DPR, yang memang cuma tukang stempel itu.</p>
<p>Buat saya, seorang yang tidak berani bertanggung jawab dan melempar kesalahan pada institusi tempatnya bekerja, jelas bukan seorang pemimpin. Ditambah pengalamannya melanggar HAM dengan dalih menjalankan tugas, bayangkan sifat institusi yang akan dipimpinnya kelak. Bahkan Timur dengan enteng menyatakan kalau laskar Front Pembela Islam (FPI) yang beberapa kali melakukan tindakan anarkis dan pelanggaran hukum, bisa membantu menjaga keamanan. Wow! Saya langsung terbayang laskar Schutzstaffel di Jerman pada masa pemerintahan Hitler.</p>
<p>Bagaimanapun, mengutip SBY, “sistem telah bekerja”. Secara konstitusional, Timur tinggal dilantik menjadi Kapolri. Sampai saat ini saya masih berharap Polri akan terus bertransformasi menjadi penjaga keamanan dan HAM sejati di republik tercinta. Saya juga masih bercita-cita, hukum sipil segara diterapkan pada militer, dan Polri menjadi pengawalnya.</p>
<p>Haruskah saya akhiri tulisan ini dengan memberikan selamat kepada Komjen Timur Pradopo, yang tak lama lagi akan menjabat Kapolri dengan bintang empat bertengger di pundaknya? Maaf, Jenderal. Saya tetap tidak rela.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=190&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/10/20/mengapa-saya-menolak-timur-pradopo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/10/timur.jpg?w=280" medium="image">
			<media:title type="html">Timur Pradopo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbohong tentang Subsidi</title>
		<link>http://widodo.net/2010/10/10/berbohong-tentang-subsidi/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/10/10/berbohong-tentang-subsidi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 14:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widodo.net/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Subsidi yang dimaksudkan pemerintah saat ini adalah selisih antara harga jual suatu produk dengan harga di pasar bebas. Artinya, pencabutan subsidi akan mengarahkan rakyat untuk ‘mandiri’ membeli semua kebutuhannya sesuai harga di pasar bebas.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=185&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah berteriak-teriak tentang penggunaan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melonjak empat kali lipat dibandingkan angka tahun lalu. Karena itu, pemerintah akan berusaha mengurangi penggunaan “BBM bersubsidi”. Artinya, masyarakat tidak bisa seenaknya lagi membeli Premium dan Solar yang sebetulnya juga sudah tidak murah lagi.</p>
<p>Media massa kemudian memperkuat teriakan-teriakan ini. Selama beberapa waktu, pemberitaan dan wacana pembatasan penggunaan “BBM bersubsidi” memenuhi media cetak, online, dan elektronik.</p>
<p>Namun, benarkah BBM saat ini masih disubsidi? Selama bertahun-tahun, ekonom senior, Doktor Kwik Kian Gie, mati-matian berusaha menjelaskan bahwa paradigma subsidi yang digunakan pemerintah saat ini terlalu berdasarkan pemikiran pasar bebas. Dalam pola pikir pemerintah sekarang, Premium dan Solar adalah “BBM bersubsidi” karena dijual di bawah harga pasar dunia.<span id="more-185"></span></p>
<p>Kwik memberikan contoh seperti ini: Harga minyak mentah 100 dolar AS per barrel.<br />
Karena 1 barrel = 159 liter, maka harga minyak mentah per liter adalah 0,63 dolar AS. Kalau kita ambil kurs  1 dolar AS = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per liter.</p>
<p>Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium, kita anggap dibutuhkan biaya sebesar 10 dolar per barrel atau Rp. 630 per liter. Kalau ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan Rp. 6.300 ditambah Rp. 630 menjadi Rp. 6.930. karena dijualnya dengan harga Rp. 4.500 per liter, maka diperlukan subsidi Rp. 2.430 per liter.</p>
<p>Pola pikir ini seolah-olah benar. Namun ada yang salah dalam perhitungan ini. Harga minyak mentah yang diambil dari dalam bumi kita sendiri dijual ke rakyat dengan harga pasar bebas. Padahal biaya untuk mengambil satu barrel minyak mentah jauh di bawah 100 dolar AS, di bawah 2 dolar AS.</p>
<p>Jadi, asumsi pemerintah ini baru benar apabila Indonesia sudah tidak lagi bisa menambang minyak dan harus seratus persen mengimpor minyak mentah dari luar negeri. Selama kita masih bisa memproduksi minyak mentah, angka 100 dolar itu seharusnya diganti dengan rata-rata biaya produksi dengan impor minyak mentah yang kita lakukan.</p>
<p>Misalnya kita memproduksi 50 persen kebutuhan minyak dengan biaya 2 dolar per barrel dan 50 persen sisanya dibeli seharga 100 dolar per barrel, maka harga satu barrel minyak yang digunakan sebagai acuan, seharusnya hanya 51 dolar AS. Ini setara dengan 0,32 dolar AS atau Rp 3.200 per liter. Ditambah biaya proses Rp 630, berarti Premium bisa dijual seharga Rp 3.830. Harga ini masih di bawah harga Premium dan Solar saat ini yang Rp 4.500. Jadi, di mana subsidinya?</p>
<p>Paradigma “subsidi”semacam ini digunakan oleh pemerintah untuk menghitung semua jenis barang yang dianggap bersubsidi. Artinya, rakyat baru “tidak disubsidi” jika membeli semua kebutuhannya sesuai dengan harga di pasar bebas.</p>
<p>Layakkah pola pikir semacam itu diterapkan di Indonesia? Bukankah dalam konstitusi kita jelas tercantum, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Memaksa rakyat membeli semua barang kebutuhan sesuai pasar bebas merupakan pelanggaran serius terhadap konstitusi dan presiden yang melakukannya layak dimakzulkan.</p>
<p>Media massa seharusnya juga tidak mentah-mentah menggunakan istilah “BBM bersubsidi” atau istilah-istilah buatan penguasa lainnya agar tidak membodohi masyarakat. Istilah yang tepat menurut saya adalah “BBM non-harga pasar”.</p>
<p><strong>Catatan penulis:</strong> Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://srimulyono.net/?p=89" target="_blank">SriMulyono.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=185&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/10/10/berbohong-tentang-subsidi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Citra Tertindas Calon Presiden</title>
		<link>http://widodo.net/2010/10/10/citra-tertindas-calon-presiden/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/10/10/citra-tertindas-calon-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 14:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widodo.net/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[“Dalam negara demokrasi muda, pencitraan seorang tokoh seringkali menjadi lebih penting ketimbang program-program yang ditawarkan dalam pencalonan presiden. Di Indonesia, salah satu pencitraan yang penting untuk tokoh baru adalah terjadinya penindasan oleh rezim yang berkuasa pada tokoh tersebut”.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=182&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam usia demokrasinya yang masih muda, Indonesia telah menciptakan sejumlah perubahan signifikan. Tiga belas tahun silam mungkin tidak pernah terbayangkan rakyat Indonesia dapat memilih presidennya secara langsung. Semasa Orde Baru berkuasa, dalam Pemilu rakyat hanya diperbolehkan memilih tiga gambar yang menyimbolkan dua partai politik dan satu golongan karya. Prosentase hasil pilihan itu akan mendudukkan 400 orang di kursi parlemen. Rakyat tidak tahu siapa yang akan didudukkan di 400 kursi itu. Kemudian, presiden berkuasa akan menunjuk 100 orang untuk mewakili militer dan kepolisian. 500 orang inilah yang disebut sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).</p>
<p>Kemudian presiden berkuasa akan menunjuk lagi 500 orang sebagai wakil utusan golongan dan utusan daerah. Ditambah dengan 500 orang anggota DPR tadi, mereka disebut sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Seribu orang anggota MPR inilah yang kemudian berhak memilih presiden untuk masa jabatan selanjutnya.</p>
<p>Enam puluh persen anggota MPR ditunjuk oleh presiden yang berkuasa. Hanya 40 persen sisanya yang dipilih melalui Pemilu. Itupun bukan pemilu yang jujur dan adil. Jadi maklum saja kalau seorang presiden bisa terus-menerus terpilih kembali sampai tujuh kali.<span id="more-182"></span></p>
<p>Itu penggalan kisah lama dari masa silam. Sejak 2004, Bangsa Indonesia sudah dua kali memilih presiden secara langsung dalam Pemilu yang relatif jujur dan bersih dan tanpa gejolak politik yang berarti. Anggota DPR yang akan dipilih, sekarang dicantumkan namanya di bawah partai yang mencalonkannya, sehingga seorang pemilih bisa memilih partai, atau langsung memilih nama anggota DPR. Untuk melengkapi anggota MPR, dipilihlah anggota-anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang secara langsung mewakili propinsi tempat tinggal pemilih.</p>
<p>Apakah berarti kita sudah berhasil menegakkan demokrasi? Secara sistem ketatanegaraan, mungkin benar. Namun dalam kualitas presiden dan anggota parlemen yang dihasilkan, kita masih nol besar.</p>
<p>Seusai Pemilu, rakyat selalu dibuat terperangah oleh perilaku presiden dan kabinetnya, serta anggota-anggota parlemen yang baru dilantik. Mulai dari seenaknya menaikkan harga-harga kebutuhan pokok rakyat, meminta fasilitas yang berlebihan, hingga tidak jelasnya model kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang kepala negara. Karena itu, jangan heran jika rakyat kemudian merasa dikerjai dan tertipu telah memilih orang-orang yang berkuasa untuk lima tahun ke depan.</p>
<p>Dalam pemilihan presiden, “penipuan” terhadap rakyat sejatinya sudah dimulai sejak seorang tokoh digadang-gadang sebagai calon presiden (capres). Di saat itu, para pendukung capres akan memulai politik pencitraan terhadap calonnya. Berbeda dengan negara-negara demokrasi yang sudah dewasa, Indonesia masih cenderung memilih sosok seorang pemimpinketimbang program-program yang ditawarkannya. Karena itu, propaganda untuk membentuk opini publik yang positif terhadap sang calon menjadi sangat penting.</p>
<p>Satu hal yang menarik, Masyarakat Indonesia cenderung mudah diarahkan untuk bersimpati pada orang atau kelompok yang tertindas. Sejak Soeharto, selain Habibie dan Gus Dur – yang relatif hanya memiliki masa kekuasaan pendek, semua calon presiden selalu dicitrakan sebagai seorang yang tertindas atau berasal dari kelompok yang ditindas.</p>
<p>Sebelum Jenderal Soeharto menggambil alih kekuasaan pada 1966, koran-koran milik TNI-AD telah membentuk opini publik bahwa jenderal-jenderal TNI-AD dan disiksa kelewat batas oleh Gerakan 30 September. Meski kebenaran berita itu akhirnya terbantahkan oleh hasil visum para korban, opini publik telah terbentuk. Ketika Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dan membantai sejuta anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh bertanggung jawab pada peristiwa itu, mayoritas publik pun mendukung.</p>
<p>Sekitar tiga dasawarsa kemudian, simpati juga mengalir pada seorang Megawati Soekarno Putri, anak mendiang presiden pertama Indonesia yang terpilih menjadi ketua partai paling gurem di Indonesia pada 1993. Ketakutan berlebihan dari penguasa Orde Baru pada saat itu membuat mereka berusaha menggulingkan Megawati dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia. Soerjadi kemudian direkayasa untuk naik ke tampuk ketua umum pada awal 1996 yang berakibat mengalirnya dukungan rakyat pada Megawati hingga terjadi peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996. Seteleh gerakan reformasi bergulir, partai di bawah Megawati pun memenangi pemilu demokratis pertama di Indonesia sejak 1955.</p>
<p>Di masa kepemimpinan Megawati, sosok tertindas hadir pada seorang Susilo Bambang Yudhoyono. Jenderal yang menjabat sebagai Menko Polkam ini bersitegang dengan Megawati. Yudhoyono pun kemudian mencitrakan diri sebagai sosok pintar dan santun yang tidak dihargai oleh Megawati. Tak lama setelah mundur dari Kabinet Megawati, Yudhoyono membentuk Partai Demokrat, mencalonkan diri sebagai presiden dan terpilih pada Pemilu Presiden pertama yang dilakukan secara langsung. Citra tertindas sekali lagi menunjukkan kekuatannya untuk mempengaruhi opini publik di Indonesia.</p>
<p>Media memiliki peran yang sangat besar dalam <em>agenda setting</em> semacam ini. Sayangnya, saat ini media cenderung mengarahkan rakyat pemilih untuk mendukung seorang yang tertindas ketimbang membeberkan program-program serta kecenderungan politik dan ekonomi dari seorang calon presiden. Masyarakat pun kemudian terkaget-kaget ketika seorang tertindas yang santun tega menaikkan harga BBM dua kali dalam setahun agar tidak terlalu berselisih jauh dari harga minyak dunia.</p>
<p>Kekagetan-kekagetan semacam ini akan terus terulang jika media kembali melakukan <em>agenda setting</em> untuk membentuk opini publik yang seolah-olah logis. Misalnya saja, memberitakan seorang pakar ekonomi penganut pasar bebas dizalimi dengan tuduhan melakukan tindak pidana korupsi. Ditambah dengan berita-berita kehebatan sang tokoh, misalnya dengan terpilihnya tokoh tersebut menjadi direktur badan keuangan internasional, terbentuklah opini ada seorang pintar yang tertindas dan layak menjadi presiden periode mendatang. Ini bisa sangat berbahaya, karena masyarakat cenderung menggunakan prioritas yang disusun oleh media sebagai prioritasnya.</p>
<p>Tentu saja <em>agenda setting</em> dilakukan oleh media untuk kepentingan tertentu. Jika semasa Orde Baru media melakukan propaganda atas perintah penguasa, saat ini media melakukan propaganda untuk kepentingan pemilik modalnya. Meski tidak bisa dihindari secara total, sebagai <em>public </em>sphere, media massa seharusnya dijaga dari berbagai kepentingan dan lebih mengedepankan kepentingan publik. Jika tidak, publik akan terus menerus tertipu oleh calon-calon presiden dan demokrasi yang masih sangat muda di republik ini tidak akan tumbuh sehat menjadi dewasa.</p>
<p>Dalam demokrasi yang sehat, tokoh yang tertindas maupun tidak seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pejabat publik. Semua ditentukan oleh pandangan politik dan ekonomi serta program-program kerja yang sesuai dengan konstituen pemilihnya. Biarkan calon pendukung pasar bebas dipilih oleh kelompok pendukung pasar bebas, dan calon berbasis ekonomi kerakyatan didukung oleh masyarakat yang mengidamkan sistem ekonomi semacam ini. Media seharusnya mengedepankan hal-hal semacam ini ketimbang mendukung <em>agenda setting</em> pencitraan.</p>
<p>Namun apabila media masih gemar melakukan <em>agenda setting</em> dengan memanfaatkan citra tertindas, perkenankan saya mengajukan Ariel dan Luna Maya sebagai capres-cawapres di 2014. Bukankah keduanya sudah sangat dizalimi oleh infotaintmen dan organisasi massa tertentu?</p>
<p><strong>Catatan Penulis: </strong>Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://srimulyono.net/?p=91" target="_blank">SriMulyono.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=182&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/10/10/citra-tertindas-calon-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Genjer-genjer</title>
		<link>http://widodo.net/2010/09/30/genjer-genjer/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/09/30/genjer-genjer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 09:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://widodo.net/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Genjer-genjer&#8220; merupakan lagu populer berbahasa Osing, bahasa lokal Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu ini diciptakan seniman dari daerah tersebut, Muhammad Arief, pada 1940-an, terinspirasi kondisi Rakyat Indonesia semasa pendudukan Jepang (1942-1945). Karena kekurangan  bahan makanan, rakyat mulai mencari tanaman genjer yang saat itu tumbuh pesat sebagai gulma sawah untuk dijadikan bahan pangan. Genjer-genjer nong kedo’an pating [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=177&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>&#8220;</strong><strong>Genjer-genjer</strong><strong>&#8220;</strong> merupakan lagu populer berbahasa Osing, bahasa lokal Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu ini diciptakan seniman dari daerah tersebut, Muhammad Arief, pada 1940-an, terinspirasi kondisi Rakyat Indonesia semasa pendudukan Jepang (1942-1945). Karena kekurangan  bahan makanan, rakyat mulai mencari tanaman genjer yang saat itu tumbuh pesat sebagai gulma sawah untuk dijadikan bahan pangan.</p>
<p><em>Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler</em></p>
<p><em> </em><em>Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer<span id="more-177"></span></em></p>
<p><em>Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer</em></p>
<p><em>Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh</em></p>
<p><em>Genjer-genjer saiki wis digowo mulih</em></p>
<p><em>Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar</em></p>
<p><em>Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar</em></p>
<p><em>Dijejer-jejer diuntingi podo didasar</em></p>
<p><em>Dijejer-jejer diuntingi podo didasar</em></p>
<p><em>Ema’e Jebeng podo tuku gowo welasar</em></p>
<p><em>Genjer-genjer saiki wis arep diolah</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>Hanya karena sering dinyanyikan oleh anggota-anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), lagu ini dilarang oleh rezim militer Orde Baru yang berkuasa di Indonesia pada periode 1966-1998.</p>
<p><strong>Berikut link untuk mengunduh file mp3 lagu “Genjer-genjer” yang dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Surjani:</strong></p>
<p><a href="http://www.esnips.com/doc/3919a4d3-4acc-4d1a-bc71-016eb5ea6a71" target="_blank">Genjer-genjer versi Bing Slamet</a></p>
<p><a href="http://www.esnips.com/doc/cca3d95e-2a78-4612-af4b-28de6a5e8108/Lilis-Suryani---Genjer---Genjer-(-1962-)" target="_blank">Genjer-genjer versi Lilis Surjani</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=177&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/09/30/genjer-genjer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SBY Melanggar UUD 1945</title>
		<link>http://widodo.net/2010/08/02/sby-melanggar-uud-1945/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/08/02/sby-melanggar-uud-1945/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 10:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sigitwidodo.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menyambut datangnya Agustus, bulan kemerdekaan Bangsa Indonesia, hari ini saya berkicau di Twitter tentang pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh rezim saat ini.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=96&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/38913_422774229014_692364014_4622310_2272846_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-99" title="38913_422774229014_692364014_4622310_2272846_n" src="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/38913_422774229014_692364014_4622310_2272846_n.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Untuk menyambut datangnya Agustus, bulan kemerdekaan Bangsa Indonesia, hari ini saya berkicau di Twitter tentang pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh rezim saat ini.</p>
<p>Berikut kicauan saya copy paste dari <strong><a href="http://www.twitter.com/sigitwid" rel="nofollow" target="_blank">www.twitter.com/sigitwid<span id="more-96"></span></a></strong></p>
<p>Menyambut datangnya Agustus, perkenankan sy membuat serial twit pelanggaran konstitusi yg dilakukan oleh rezim SBY dalam #SBYMelanggarUUD45</p>
<p>Pelanggaran ini bisa berarti tdk melaksanakan atau melakukan pembiaran shg tercipta kondisi yang melanggar konstitusi RI.</p>
<p>Perbedaan perlakuan hukum antara sipil dan militer melanggar Pasal 27 (1)</p>
<p>Mayoritas bangsa Indonesia tidak hidup dan memiliki pekerjaan yang layak, melanggar pasal 27 (2).</p>
<p>Masih diberlakukannya Tap MPRS XXV/1966 melanggar hak berserikat seperti dijamin Pasal 28.</p>
<p>Penggusuran yang semena-mena membuat rakyat sulit mempertahankan hidupnya merupakan pelanggaran pasal 28A.</p>
<p>Dipersulitnya pernikahan bagi pemeluk kepercayaan dan penganut agama yang berbeda melanggar Pasal 28B (1).</p>
<p>Biaya hidup dan pendidikan tak terjangkau, melanggar Pasal 28C (1) dan Pasal 31.</p>
<p>Komersialisasi pendidikan dan pembentukan BHPT melanggar seluruh semangat Pasal 31.</p>
<p>Belum terciptanya keadilan di tengah masyarakat, pelanggaran Pasal 28D (1).</p>
<p>Pola hubungan kerja yang merugikan buruh, melanggar Pasal 28D (2).</p>
<p>Masih dipersulitnya warga negara keturunan Tionghoa untuk memperoleh status WNI, pelanggaran Pasal 28D (4).</p>
<p>Ancaman dan tindak kekerasan pada kelompok agama minoritas melanggar Pasal 28E (1) dan semangat seluruh Pasal 29.</p>
<p>Rencana sensor internet melanggar pasal 28F.</p>
<p>Pembiaran pelanggaran privasi oleh kelompok tertentu dan pekerja infotainment, melanggar Pasal 28G (1).</p>
<p>Indonesia belum memiliki program jaminan sosial untuk seluruh rakyat. Itu melanggar Pasal 28H (3).</p>
<p>Masih maraknya diskriminasi terhadap kelompok minoritas, pelanggaran Pasal 28I (2).</p>
<p>Belum dihapusnya Komando Teritorial TNI, melanggar semangat pembagian kerja TNI-Polri pada Pasal 30.</p>
<p>Polisi tidak mampu melindungi warga negara dari kelompok preman, melanggar Pasal 30 (4).</p>
<p>Penggunaan bahasa asing secara berlebihan, tdk adanya perlindungan negara atas serbuan konten asing, melanggar Pasal 32.</p>
<p>Ekonomi neoliberal, mengumpankan rakyat ke pasar bebas, menghamba pada pemodal asing. pelanggaran berat Pasal 33!</p>
<p>Tdk ada perlindungan fakir miskin&amp;anak terlantar, jaminan sos, fasilitas kesehatan dan umum yang layak. Melanggar Psl 34</p>
<p>Sementara sekian dulu tweeps, ocehan ttg pelanggaran UUD 1945 oleh rezim saat ini. Smg kawan2 bs menambahkan yg terlewat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=96&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/08/02/sby-melanggar-uud-1945/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/38913_422774229014_692364014_4622310_2272846_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">38913_422774229014_692364014_4622310_2272846_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbincangan Saat Kuis</title>
		<link>http://widodo.net/2010/06/24/perbincangan-saat-kuis/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/06/24/perbincangan-saat-kuis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 12:35:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sigitwidodo.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, saya mengadakan kuis untuk mata kuliah Jurnalisme Online di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. Dalam kuis yang diikuti 10 dari 26 orang mahasiswa ini, terlontar beberapa perbincangan yang sempat saya tulis sebagai posting twitter dan sekarang saya salin di sini: &#8220;Ya, halo.. Cepetan, lagi kuis&#8221; &#8220;Pak, jawabannya boleh ngacak, ya?&#8221; &#8220;Boleh. Yang nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=91&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, saya mengadakan kuis untuk mata kuliah Jurnalisme Online di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. Dalam kuis yang diikuti 10 dari 26 orang mahasiswa ini, terlontar beberapa perbincangan yang sempat saya tulis sebagai posting twitter dan sekarang saya salin di sini:</p>
<p>&#8220;Ya, halo.. Cepetan, lagi kuis&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak, jawabannya boleh ngacak, ya?&#8221;<br />
&#8220;Boleh. Yang nggak boleh kalau jawabannya salah&#8221;.<span id="more-91"></span></p>
<p>&#8220;Ada yang salah masuk kelas, tuh. Nanti kalau masuk, kita sorakin&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sst diem, lagi konsentrasi nih&#8221;.<br />
&#8220;Gue udah selesai. Loe mau nyontek?&#8221;</p>
<p>&#8220;Loe udah selesai?&#8221;<br />
&#8220;Udah, dong&#8221;.<br />
&#8220;Ya, yang sudah selesai boleh keluar&#8221;.<br />
&#8220;Eh, bukan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pemrednya gila..&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi flashdisk-nya kena, jadi datanya ilang&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yang tugas bikin web itu.&#8221;<br />
&#8220;Kalau gue pakai HTML&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ih, nyontek, iih..&#8221;<br />
&#8220;Nanti gue ngaku&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=91&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/06/24/perbincangan-saat-kuis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Robin Hood</title>
		<link>http://widodo.net/2010/05/26/robin-hood/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/05/26/robin-hood/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 15:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sigitwidodo.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menulis catatan tentang film. Terakhir kali saya melakukannya untuk film “Australia” yang saya nikmati di awal 2009. Entah kenapa film “Robin Hood” yang saya tonton kemarin membuat saya ingin membuat sebuah catatan kecil ( tentu saja kalau membuat sebuah catatan pinggir, saya bisa dituduh melanggar hak cipta seseorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=89&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/28801_401434259014_692364014_4085346_5071343_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-93" title="28801_401434259014_692364014_4085346_5071343_n" src="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/28801_401434259014_692364014_4085346_5071343_n.jpg?w=252&#038;h=300" alt="" width="252" height="300" /></a>Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menulis catatan tentang film. Terakhir kali saya melakukannya untuk film “Australia” yang saya nikmati di awal 2009.</p>
<p>Entah kenapa film “Robin Hood” yang saya tonton kemarin membuat saya ingin membuat sebuah catatan kecil ( tentu saja kalau membuat sebuah catatan pinggir, saya bisa dituduh melanggar hak cipta seseorang ^_^ ).<span id="more-89"></span></p>
<p>Robin Hood adalah perampok mulia yang mencuri dari orang kaya untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin. Legenda global asal Inggris ini dikenal oleh semua bangsa di dunia. Bahkan sebelum pertengahan abad silam, Ismail Marzuki sudah menggambarkan Kopral Djono aksinya “<em>very good</em> seperti Mas Robin Hood”. Tentu saja itu Kopral Djono sebelum terkena gangguan jiwa karena diperintahkan membantai satu desa yang dituduh pengikut komunis. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Banyak versi bercerita tentang Robin Hood. Bahkan Disney pun membuat versi kartun Robin Hood sebagai rubah yang cerdik. Pembaca majalah “Donal Bebek” di tahun 1980-an pasti kenal dengan Robin Hood versi ini.</p>
<p>Untuk generasi saya, Robin Hood identik dengan Kevin Costner dengan <em>soundtrack</em> film yang tak mungkin terlupakan: <em>Everything I do, I do it for you</em>. Mungkin karena lagu itu, banyak generasi saya yang menjadi pemuja cinta. Tapi ada juga yang mungkin karena pemahamannya terbatas, salah mendengar lagu itu dan menjadi pemuja uang. “Everything I do, I do it for duit”. Sayangnya orang-orang dengan pemahaman terbatas itu sekarang banyak duduk di pemerintahan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. <em>Duh</em>!</p>
<p>Ada beberapa pakem yang tidak pernah berubah dalam cerita Robin Hood. Latar belakangnya adalah Hutan Sherwood, di pinggiran Nottingham, Inggris pada masa pemerintahan Pangeran (Raja?) John, tiran yang menggantikan sang kakak, Raja Richard berhati singa, yang pergi untuk berperang ke luar negeri (beberapa versi dengan jelas menyebutkan pergi untuk ikut dalam Perang Salib). Ada si cantik Lady Marian yang mendampingi Robin, ada pastur konyol Frater Tuck, dan sahabat setia Little John. Ada tokoh antagonis Sheriff of Nottingham, kaki tangan setia Raja John.</p>
<p>Apapun, di benak saya, Robin Hood tetap identik dengan video klipnya Brian Adams yang sering tayang di televisi swasta saat saya SMA itu. Tapi ada banyak hal yang menarik dan saya sukai dari Robin Hood-nya Russel Crowe ketimbang Robin Hood-nya Costner.</p>
<p>Hal pertama yang saya sukai dari Robin Hood versi 2010, saya tidak perlu lagi menonton sendirian seperti tahun 1991 karena saya menyandang predikat jomblo semasa SMA, he he he.</p>
<p>Saya menyukai gagasan tim penulis, Brian Helgeland dan kawan-kawan, yang menginterpretasi Robin sebagai anak seorang filsuf penganjur kesetaraan. Meski hanya mengenal ayahnya hingga usia enam tahun karena dibunuh oleh tentara kerajaan, ajaran dasar sang ayah tetap melekat di benak Robin.</p>
<p>Saya juga menyukai Robin yang berani mengecam Raja Richard karena memerintahkan pembantaian penduduk satu Desa Muslim saat Perang Salib. Di cerita Robin Hood versi lainnya, Raja Richard ditampilkan tanpa cela dan sangat dihormati oleh Robin dan kelompoknya. “Ketika melakukannya, kita semua tidak ber-Tuhan,” tegas Robin versi baru.</p>
<p>Sesuatu yang masih dilakukan oleh manusia di abad ke-21: Menggunakan berbagai alasan – seringkali “demi Tuhan” – untuk melakukan penindasan tanpa merasa bersalah. Ini dilakukan mulai dari level keluarga, suami menindas istri, atau orangtua menindas anak dengan alasan agama. Kemudian naik ke level kelompok, seperti orang-orang berjubah putih yang suka menyerang kelompok lain itu, hingga level negara adidaya seperti Amerika Serikat yang seenak udelnya menyerang dan membantai rakyat negara lain.</p>
<p>Melihat sosok Lady Marian yang jauh berbeda dari versi-versi Robin Hood lainnya juga menyenangkan. Di versi-versi silam, Marian adalah sosok lemah-lembut yang sangat memerlukan bantuan Robin. Di versi 2010 besutan Ridley Scott, yang juga menyutradarai “Gladiator” dan “Kingdom of Heaven”ini, Marian tampil sebagai tokoh yang tegar, tegas, mandiri dan selalu ingin melindungi rakyat Nottingham yang ditindas, baik oleh kaum monarki, maupun kaum agama.</p>
<p>Dia tak ragu mengancam Robin yang tidur sekamar karena “baru saja menjadi suaminya”. “Aku membawa pisau. Kalau berani menyentuhku, akan kupotong kejantananmu”. Ketika akan diperkosa anak buah Godfrey, dia pun tak segan menyarangkan pisau ke leher penyerangnya. Kalau di versi-versi lainnya Marian selalu menunggu Robin datang menyelamatkannya, di versi ini dia membantu Robin berperang melawan invasi Tentara Prancis, layaknya Komandan Inong Bale di Aceh saja.</p>
<p>Kisah Robin Hood karya Scott tidak mengumbar romantisme dan menjadi sangat realistis, khas film-film versi sekarang. Raja yang lelah mental setelah 10 tahun berperang demi alasan agama, raja baru yang ingin lepas dari bayang-bayang kebesaran sang kakak, anak yang ingin meneruskan gagasan-gagasan politik ayahnya, intrik politik dan penghianatan, hingga penguasa yang ingkar janji memberikan hak-hak rakyat.</p>
<p>Namun kali ini Scott tidak mengakhiri cerita dengan tragis seperti “Gladiator”. “Robin Hood” tampaknya dibuat Scott sebagai kelanjutan “Kingdom of Heaven”. Sepuluh tahun setelah Raja Richard bertemu Balian de Ibelin yang baru saja dikalahkan Raja Saladin di Yerusalem.</p>
<p>Kali ini Scott memberikan akhir yang bahagia. Robin, Marian, dan kawan-kawan menbentuk masyarakat komunal yang mandiri di Hutan Sherwood, menolak kekuasaan tiran Raja John.</p>
<p>Indah, bukan? Namun soundtrack-nya tetap tidak mampu mengalahkan keindahan “Everything I do I do it for you”.</p>
<p><em>Oh, you can&#8217;t tell me it&#8217;s not worth tryin&#8217; for<br />
I can&#8217;t help it, there&#8217;s nothin&#8217; I want more<br />
I would fight for you, I&#8217;d lie for you<br />
Walk the wire for you, yeah I&#8217;d die for you</em></p>
<p>You know it&#8217;s true<br />
Everything I do, I do it for you</p>
<p>Oh, cinta..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=89&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/05/26/robin-hood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sigitwidodo.files.wordpress.com/2010/09/28801_401434259014_692364014_4085346_5071343_n.jpg?w=252" medium="image">
			<media:title type="html">28801_401434259014_692364014_4085346_5071343_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negaraku&#8230;</title>
		<link>http://widodo.net/2010/05/11/negaraku/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/05/11/negaraku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sigitwidodo.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Negaraku carut-marut Pejabatnya cuma bisa mikirin perut Sama urusan bawah perut Masalah dibiarkan centang-perenang Yang penting para cukong senang Tak apa rakyat tak makan Yang penting bapak bisa punya istri delapan Si miskin mau berobat, nggak punya dokat Akhirnya cuma bisa tunggu mokat Gabah murah, pupuk mahal Sisa harga diri pun habis dijual Mau kuliah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=86&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Negaraku carut-marut<br />
Pejabatnya cuma bisa mikirin perut<br />
Sama urusan bawah perut</p>
<p>Masalah dibiarkan centang-perenang<br />
Yang penting para cukong senang</p>
<p>Tak apa rakyat tak makan<br />
Yang penting bapak bisa punya istri delapan<span id="more-86"></span></p>
<p>Si miskin mau berobat, nggak punya dokat<br />
Akhirnya cuma bisa tunggu mokat</p>
<p>Gabah murah, pupuk mahal<br />
Sisa harga diri pun habis dijual</p>
<p>Mau kuliah biaya ribuan dolar<br />
Tak perlu punya otak, yang penting bisa bayar</p>
<p>Parlemen tak peduli buruh unjuk rasa<br />
Mending studi banding ke Eropa</p>
<p>Petinggi bikin masalah, ya biarin saja<br />
Nanti kan diselamatkan Bank Dunia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=86&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/05/11/negaraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oalah, Sri..</title>
		<link>http://widodo.net/2010/05/10/oalah-sri/</link>
		<comments>http://widodo.net/2010/05/10/oalah-sri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 08:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sigitwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sigitwidodo.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Sri.. Sri.. Kamu kok makin ngetop saja to, Sri? Tiap hari jadi berita koran di halaman satu Masuk tivi Dipuja-puji, bagai dewi suci Sri.. Sri.. banyak yang mencalonkan kamu jadi pemimpin negeri Tak lagi peduli dengan Century Sri.. Sri.. namamu seperti dewi pujaan petani Tapi kamu bikin mereka cuma jadi buruh tani Sri.. Sri.. kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=84&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sri.. Sri.. Kamu kok makin ngetop saja to, Sri?<br />
Tiap hari jadi berita koran di halaman satu<br />
Masuk tivi<br />
Dipuja-puji, bagai dewi suci</p>
<p>Sri.. Sri.. banyak yang mencalonkan kamu jadi pemimpin negeri<br />
Tak lagi peduli dengan Century<span id="more-84"></span></p>
<p>Sri.. Sri.. namamu seperti dewi pujaan petani<br />
Tapi kamu bikin mereka cuma jadi buruh tani</p>
<p>Sri.. Sri.. kamu diagungkan mencipta pertumbuhan ekonomi<br />
Apa kamu ingat pekerja yang tak pernah sejahtera?</p>
<p>Selamet yo, Sri..<br />
Kamu sekarang jadi petinggi organisasi<br />
Yang bikin sengsara orang miskin sedunia..</p>
<p>Oalah, Sri..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sigitwidodo.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sigitwidodo.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=widodo.net&amp;blog=6182504&amp;post=84&amp;subd=sigitwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://widodo.net/2010/05/10/oalah-sri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0c5eb66b8f82cdfc31c2bf33ae9acc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sigitwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
